COMES: Kepala Biro Politik Hamas Khaled Misy’al mengatakan, gerakannya tidak akan menjual bangsa dan prinsip gerakan demi untuk mendapatkan bantuan luar negeri. Dia menyatakan Hamas bisa menerima gencatan jangka panjang dan menolak syarat yang diajukan Amerika dan Eropa mengenai bantuan kepada pemerintah yang akan dibentuknya agar gerakannya mengakui eksistensi “negara Israel” dan meletakan senjata. Demikian ditegaskan Misy’al dalam artikel yang dimuat di harian Inggris Guardian, Selasa (31/01/06).
Misy’al menganggap sikap Amerika dan Eropa itu sebagai sanksi terhadap bangsa Palestina atas kesuksesannya dalam melaksanakan pemilu secara demokratis. “Alih-alih mengakui kemenangan Hamas dan menganggapnya sebagai wakil yang terpilih secara bebas untuk rakyat Palestina, menerima hasil pemilu, mendukung pembentukan pemerintahan baru di Palestina dan mencari jalan menghentikan penumpahan darah, kami melihat justru Amerika dan Uni Eropa menghukum orang-orang Palestina. Karena mereka melaksanakan haknya dalam memilih wakil-wakilnya di dewan legislatif,” tulis Misy’al.
Dia mengatakan, “Pada hari di mana orang-orang Palestina sukses melaksanakan pemilu secara demokratis, dunia telah gagal dalam menguji demokrasi.”
Kepala Biro Politik Hamas ini mengisyaratkan, “Orang-orang Palestina adalah bangsa terpelajar di dunia ini, maka mana kala mereka pergi untuk memilih pada Rabu lalu, mereka sangat tahu pilihan-pilihan yang diajukan di hadapan mereka.” Pemilihan bangsa Palestina terhadap Hamas adalah bukti kepercayaan mereka dalam memilih gerakan. Bahwa gerakan ini tidak akan mengabaikan hak-hak legal bangsa Palestina.
MIsy’al mengatakan bahwa bangsa Palestina memilih Hamas “meski ada ancaman-ancaman lokal dan internasional untuk tidak memilih organisasi yang dituduh Amerika dan Eropa sebagai teroris, bahwa mereka tidak akan mendapatkan bantuan dari negara-negara donor.”
Misy’al menyerukan kepada Amerika dan Uni Eropa agar bergaul secara positif dengan gerakannya, menggunakan kesempatan ini untuk membangun hubungan sebaik mungkin dengan dunia Arab dan Islam. Dia menyerukan keduanya agar membebaskan diri dari hegemoni pandangan Zionis terhadap gerakan Hamas. “Mungkin saja Amerika dan Uni Eropa menggunakan kemenangan Hamas ini untuk membuka halaman baru dalam hubungan keduanya dengan Palestina, dunia Arab dan kaum muslimin, juga untuk lebih memahami gerakan selama melihat kepadanya melalui mata nazi penjajah tanah Palestina yang menganggapnya sebagai gerakan teroris.” katanya.
Artikel Misy’al di harian Inggris ini memuat sejumlah pesan, pertama kepada pemerintah Amerika, Uni Eropa dan inti penolakannya terhadap syarat yang harus dilakukan gerakan untuk mendapatkan bantuan. Dia menganggap upaya untuk memaksa Hamas agar melepaskan diri dari prinsipnya, ujungnya pasti menemui kegagalan. “Bangsa kami yang telah mengorbankan ribuan syuhada’, jutaan pengungsi yang menunggu kurang lebih 60 tahun untuk kembali ke tanah mereka dan sekitar 9 ribu tawanan di penjara-penjata penjajah, mereka tidak mempersembahkan semua pengorbanan ini untuk tujuan sesuatu apapun,” tulisnya tegas.
Dia menegaskan dalam waktu yang sama gerakannya bertekad memelihara hubungan persahabatan dengan semua negara. Namun demikian dia menambahkan, “Kami tidak akan melihat persahabatan kepada siapa saja yang tidak mengakui hak legal kami.” Dia menyebut perjuangan bangsa-bangsa adalah demi kebebasan, di antaranya adalah bangsa Vietnam dan Afrika Selatan, mereka bertekad melakukan perlawanan guna merealisasikan tuntutan mereka untuk hidup bebas dan berkeadilan. “Kami seperti mereka menuntut kebebasan dan keadilan. Tekad dan kesabaran kami tidak lebih kecil dari mereka,” tulisnya.
Misy’al menulis pesan kepada Arab dan kaum muslimin dan meminta mereka tentang perntingnya berdiri di pihak bangsa Palestina dan tidak meninggalkan orang-orang Palestina sendirian dalam menghadapi “provokasi”. Dia mengatakan, “Kewajiban anda adalah berdiri di pihak saudara-saudara anda, Palestina, yang berjuang mewakili anda semua.” Dia mengingatkan bahwa bangsa Palestina tidak harus ditinggalkan sendirian menunggu bantuan dari negara-negara Eropa, yang mengaitkan setiap dolar atau euro yang mereka berikan dengan syarat-syarat lalim dan tidak adil terhadap hak bangsa Palestina. “Kami yakin anda memenuhi kebutuhan bangsa Palestina dan kami meminta pemerintah-pemerintah dunia Arab dan Islam memberi kebebasan kepada organisasi-organisasi non pemerintah untuk memberikan bantuan,” imbuhnya.
Kepada bangsa Palestina Misy’al mengatakan, “Kepada bangsa kami, bukan saja yang hidup di Gaza dan Tepi Barat namun juga jutaan pengungsi lainnya di Lebanon dan Suriah, serta jutaan lainnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia yang dilarang untuk kembali ke tanah airnya..kami tegaskan kepada anda semua tidak ada hambatan di dunia ini yang menghalangi kita untuk merealisasikan tujuan untuk merdeka dan kembali. Kami tidak akan menyimpan segenap upaya untuk bekerja dengan semua pihak guna menata rumah tangga internal Palestina.” Dia mengisyaratkan pentingnya memberbaiki PLO agar menjadi perwakilan legal semua orang Palestina tanpa mengecualikan siapapun.
Kepada Zionis Israel Misy’al mengatakan, “Kami tidak memerangi kalian karena kalian berafiliasi kepada aqidah atau peradaban tertentu. Yahudi telah tinggal di dunia Islam lebih dari 13 abad hidup secara damai. Mereka dalam agama kami adalah termasuk Ahli Kitab, mereka mendapatkan janji dari Allah dan Rasul-Nya, Muhammad saw, untuk dilindungi dan dihormati. Perang kami dengan kalian bukanlah karena agama namun karena sebab politik. Bagi kami tidak ada masalah dengan Yahudi yang tidak memerangi kami. Namun masalah kami adalah dengan mereka yang datang ke tanah kami, kemudian memaksakan diri mereka berkuasa atas kami dengan kekuatan, menghancurkan masyarakat dan membunuh rakyat kami.”
Misy’al kembali menegaskan penolakannya mengakui entitas “negara Zionis Israel”. Dia mengatakan, “Kami tidak akan mengakui system negara nazi yang berdiri di atas tanah kami guna menghapus dosa-dosa orang lain (yang bukan kami lakukan) atau untuk menyelesaikan masalah mereka.” Dia merujuk kepada tanggung jawab historis orang-orang Eropa selama orang Yahudi tinggal di Eropa. Misy’al mengajukan kepada pihak Zionis Israel untuk melakukan gencatan jangka panjang. “Jika kalian menerima gencatan jangka panjang, maka kami siap untuk mendiskusikan hal itu. Hamas senantiasa mengulurkan tangannya untuk perdamaian kepada mereka yang menginginkan perdamaian yang didasari atas keadilan,” ungkapnya menegaskan. (pi/seto)